-
Bahagia itu Sederhana
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana berlari di pagi hari, saat matahari masih mengintip di ufuk timur. Melintasi kehidupan pagi hari yang tenang, dimana hiruk pikuk belum dimulai. Ayunan kaki melangkah seirama dengan alunan musik pada playlist shuffle mungil. Dada yang terbakar terus meraup dingginnya udara seiring degupan jantung. Pikiran ini berada pada ambang keragu-raguan untuk berhenti atau terus berlari, saat kaki melulnglai dan paru-paru mulai sesak. Namun, semakin jauh kaki ini melangkah, semakin kuat pula tekad untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Untuk sampai tujuan, tidak ada pilihan kecuali terus berlari.
Dalam setiap ayunan langkah kaki tersibak kebahagiaan dibalik rasa syukur atas kesehatan diri.
Ya sesederhana ayunan langkah kaki.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana makan masakan rumah yang enak. Sambal ikan teri, goreng tempe tepung dan sayur bayam menjadi sangat nikmat saat kami sekeluarga duduk melingkar di meja makan. Bapak yang biasa membuka pembicaraan dengan guyonan sederhananya, membuat kami tertawa lepas hingga tak sadar sudah begitu banyak hal-hal baru yang telah saling diceritakan, tapi seperti biasa kami tak pernah kehabisan cerita hingga adzan membubarkan persekutuan hangat di meja makan.
Dalam setiap senyuman dan tawa lepas keluarga di meja makan ini, terserap makna kebahagiaan yang menjadikan rumah seutuhnya tempat kembali.
Ya sesederhana makan masakan rumah.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana secangkir kopi yang dinikmati bersama para sahabat. Larut dalam obrolan-obrolan ringan yang memecah kesunyian. Mengisi lembaran-lembaran cerita atas setiap momen yang dibagikan. Manis, pahit, mereka menjadi saksi atas perkembangan diri. Yang menyadarkan diri bahwa kita tak pernah sendiri.
Bahagia itu sangat sederhana.
Sesederhana kehadiranmu dalam hidupku.
Ya sesederhana itu, Melisa.
-
Mungkin rasa ini tumbuh disaat yang tidak tepat, tidak normal dan dilematis. Hingga suatu ketulusan tertutup oleh rasa ingkar yang menahannya bertumbuh lebih jauh. But i have a faith on it, setidaknya saya sudah jujur pada diri sendiri.
-
Saya tidak akan muluk-muluk dengan ini. saya ingin menjalaninya dengan sederhana, kepercayaan, dan ketulusan.
-
Let it flow, and let it be. Enjoy the moment and have a faith on it.
-
Love is real, real is love,
Love is feeling, feeling love,
Love is wanting to be loved.Love is touch, touch is love,
Love is reaching, reaching love,
Love is asking to be loved.Love is free, free is love,
Love is living, living love,
Love is needing to be loved.Love is you,
You and me,
Love is knowing,
We can be. -
Partikel bergerak dari tekanan tinggi ke yg rendah, tidak perlu dipaksakan. Kita hanya perlu membuat jalurnya agar dapat mengalir dengan sendirinya. Cepat-lambat, halus- kasar, semua tergantung dari jalur yg kita buat, seikhlas apa kita merelakan partikel itu untuk dapat mengalir.
Analogi yg absurb, Gian Wilda Satria -
Everybodies change. dont ever look backward to judge, you can’t imagine how change they are until you know them better, again.
-
The art of grateful
-
setiap orang memiliki impian mengenai bagaimana kehidupan ideal yang ingin ia jalani. sebagian orang gelisah tentang hidup dan kehidupannya, tersungkur pada ketidakpastian yang selalu mengerayangi alam pikirannya.
menyesali kesalahan dan resah atas masa depan yang tidak pasti sama saja dengan memperumit hidup yang seharusnya dapat lebih kita syukuri adanya.
cobalah lihat dari perspektif yang berbeda bila kita masih mempertanyakan seberapa beruntungnya kita, dan bila masih berpikiran yang sama, cobalah lagi untuk melihat pada perspektif yang lain. seperti fotografi, keindahan terletak pada perspektif dan sudut kita dalam mengambil potret.
dunia sudah begini adanya, tak kurang tak lebih, keindahannya tergantung dari seberapa mahir seseorang dalam mengatur perspektifnya atas kehidupan.Gian Wilda Satria -
Integrasi pola pikir,
Integrasi sikap,
Integrasi hati,Ketulusan.
Developing self culture